Metamorphosis 2008

Sebelumnya apa itu Metamorphosis 2008? Merupakan rangkaian acara penerimaan mahasiswa baru yang diadakan oleh gamais (organisasi islam di kampus gw) yang ditutup dengan buka puasa di bulan ramadhan. Lalu banyak juga yang bertanya ke gw, lu gamais yo?

Bingung juga menjelaskannya, gw bukan terlihat memakai celana bahan, tidak biasa memakai jaket organisasi islam terpusat atau jurusan, rambut acak-acakan, kadang memakai celana lee coper dengan sobekan di paha. Ucapan juga sering nyeleneh dan mata gw bukan mata yang terjaga atau terlihat terjaga dari pornografi. Pendeknya gw tidak terlihat seperti anak gamais ITB pada umumnya. Begitulah kata teman-teman gw.

Tetapi gw tetep berstatus anak gamais di divisi DSM dan itu berlalu begitu cepat. Awalnya dari curhat ke teman dan dia meminta ketua DSM memasukan gw ke divisi yang intinya di bidang desain itu. Lalu sekarang gw udah menjadi ketua divisi publikasi acara gamais, Metamorphosis 2008.

To the point, ini dia logo metamorphosis :

logo metamorphosis

Kemudian tiga icon yang menggambarkan ulat, kepompong dan kupu-kupu

icon metamorphosis

Lalu cover proposal :

cover proposal

Kemudian ada juga cd interaktif yang dibuat dengan Adobe Flash, klik disini klik disini buat melihat hasilnya.

Anyway, design is really make me happy..

Add comment July 7th, 2008

Kenapa dengan Non Muslim?

Sesama umat muslim itu bersaudara, kalau sesama dengan non muslim bagaimana? Pertanyaan itu terpikir oleh gw karena melihat beberapa percakapaan anak yang mengikuti organanisasi / unit islam di kampus gw. Salah satunya ketika mendengar percakapan mereka di angkot Caringin-Sedang Serang. Inti percakapan itu mengenai angkatan dia, salah satu yang memakai jaket muslim jurusannya, mengajukan salah seorang untuk menjadi kahim melawan angkatan diatasnya. Alasannya apa? Karena calon dari angkatan diatasnya itu non muslim. Mungkin ada hadist yang menyarankan atau mengharuskan pemimpin dari muslim juga, tetapi di negara ini, hak non muslim sama dengan muslim. Apalagi dalam organisasi di kampus. Gw jadi ingat teman gw yang ngga boleh masuk pengawas harian atau BP gara-gara dia protestan. Bagaimana sebaiknya menyikapinya? Entahlah.

Kemudian ada sedikit ceramah dari angkatan 2005 ketika gw berada di masjid salman yang membuat gw kembali bertanya, Kenapa dengan non muslim? Kata dia, kristen atau non muslim lagi, sudah mulai membahayakan. Dia ambil contoh persentase non muslim di teknik kimia meningkat sepuluh persen setiap tahunnya. Gw kembali bertanya? Kenapa emangnya dengan non muslim? Mereka punya hak penuh untuk kuliah disini. Siapapun dan jurusan apapun dan juga berapapun persentasenya. Jika dipikir itu membahayakan umat muslim, dari sisi mana bisa menilai dengan tepat seperti itu?

Beberapa cerita kristenisasi sangat banyak ketika gw SMA dulu. Contonya ada contoh email yang beredar dengan isi strategi menyebarluaskan agama kristen di Indonesia. Ada lagi tentang dua mahasiswi yang dibiayai katolik sehingga mereka berdua murtad. Mungkin kristenisasi itu sebuah cara yang buruk jika dipaksakan, tetapi setiap orang di Indonesia ini bebas memilih agama masing-masing seperti dalam UUD pasal 29 ayat 2. Mempengaruhi untuk pindah agama itu salah atau benar? Selama tidak memaksa, menurut gw sih tidak salah dan pastinya gw bisa salah. Keyakinan itu ada di diri masing-masing.

Apakah ada bentuk kristenisasi yang salah itu di dunia kampus? Entahlah karena gw ngga pernah melihat atau sekedar tahu berita seputar itu. Selama ini hubungan gw baik-baik saja dengan mereka yang bukan islam. Mereka juga menghormati gw sebagai orang islam dan tidak pernah ada tanda-tanda mempengaruhi keimanan gw. Ketika kuliah di Binus yang umat islamnya lebih sedikit, gw tetap tidak menemukan tanda-tanda yang kristenisasi atau apalah yang dicemaskan oleh sebagian umat muslim itu. Memang ada beberapa kejadian yang tidak biasa dan tidak menghormati umat muslim, seperti tetap makan tanpa usaha menutupinya ketika bulan puasa, tetapi menurut gw itu salah orangnya dan tidak membahayakan islam di Binus secara keseluruhan.

Menurut gw lebih baik memperkuat hubungan sesama umat muslim daripada memikirkan “ancaman” dari luar, tetapi bukan berarti ancaman itu tidak dipikirkan, gw hanya bilang lebih baik. Kenapa? Setahu gw ada teman-teman yang berasal dari unit islam tidak dapat menyatu dengan mereka yang bukan unit islam atau lebih spesifiknya yang sedikit nakal. Apakah itu yang jarang shalat, celana bolong, tukang dugem atau perempuan tidak berjilbab. Mungkin pemandangan langka melihat satu yang memakai jaket organisasi islam dengan celana yang sobek di lututnya ngobrol dengan enaknya sambil sesekali tertawa. Teman gw cerita, organisasi islam di kampusnya lebih fleksibel keanggotannnya. Mahasiswi dengan jins ketat dan tidak berjilbab bisa menjadi panitia dalam acara organisasi tersebut. Hubungan antara jilbab panjang dan yang berkaos ketat bisa dibilang tanpa masalah secara umum. Ada beberapa cara menarik untuk mengajak mereka yang belum memakai jilbab, seperti jilbab day yang merencanakan memakai jilbab warna yang sama di hari tertentu. Cara ini dapat menarik yang belum memakainya untuk berkerudung.

Masih ada jurang pemisah antara mereka yang ikut organisasi islam dan yang tidak.

Ini hanya pendapat yang sangat mungkin bisa salah.

1 comment June 24th, 2008

Jakarta dalam 4 Hari

Jakarta memang luas dan panas. Tidak akan cukup menjelajahi jakarta dalam waktu singkat apalagi hanya 4 hari. Tetapi, dalam jangka waktu itu, banyak kisah (cukup) menarik dan terkadang menggugah hati sementara.

Baru saja keluar kereta argo gede di stasiun gambir, hawa panas langsung terasa. Apalagi masih pukul dua siang dan begitu banyak orang di jalur tiga dan empat. Gw bersama Dian, teman satu kosan, berjalan lemas mencari makanan. Seperti turis dari padang pasir dan baru sampai di tempat umum. Lusuh, wajah kusam dan pastinya kelaparan. Gw sudah merekomendasikan Hoka-hoka bento, tapi akhirnya malah nyasar ke soto daging dekat tangga naik menuju jalur satu - dua. Tempat nya sepi dan fakta bahwa tidak ada pelanggan lain selain kami membuat hati ngga enak. Untung tak lama setelah itu, ada bapak-bapak tua dengan muka khas jawa bersama gadis muda yang seksi.

Soto daging pun dihidangkan bersama nasi yang sudah dingin. Tidak seperti biasanya, soto daging di gambir ini dagingnya banyak dan empuk dan tidak ada komponen lainnya. Hanya daging, kuah dan bumbu. Setelah makan, para turis ini pun lebih bertenaga dan bersiap mengeluarkan dompet untuk membayar. Kemudian kasir mencet-mencet mesin kasir dan keluar angka 26 000 diiringi suara polos, “semuanya dua puluh enam ribu mas.”

Kaget…

Gw membayar tanpa suara diikuti Dian setelahnya. Terlihat juga wajah kaget dia setelah membayar. “Jan***, ini sama kek makan dua hari di bandung.” Soto hanya berisi daging plus nasi dingin dengan harga total dua puluh enam ribu jadi awal yang buruk di Jakarta.

Hari kedua diawali dengan cerita polisi di semanggi, pak polisi berwajah garang menghentikan mobil teman gw.

“Selamat siang pak.” Teman gw itu memang berkumis tebal, tapi rasanya pak polisi memanggil dengan sebutan “pak” kepada rata-rata korbannya.

“Siang juga pak.”

Setelah penjelasan mengenai pasal-pasal sampai juga pada intinya : negoisasi harga. Teman gw memulai terlebih dahulu, “Pak selesaikan disini saja ya.”

Polisi itu diam saja, diam berarti setuju.

“Uang saya ada lima puluh ribu pak, tapi saya butuh banget yang tiga puluh ribu nya.” Kata teman gw sambil memegang selembar lima puluh ribu.”

“Wah ngga bisa, lima puluh ribu.”

“Aduh Pak, tolonglah sekali ini saja.”

“Gak bisa.” Polisi kali ini sepertinya sudah berpengalaman.

“Tolong Pak, saya butuh sekali tiga puluh ribu ini.”

“Sebenarnya saya mau aja dek, tapi ngga ada uang kembaliannya.” Kata pak polisi, polos.

Dalam hati, “Waduh pak. Ngobrol dong kalo gitu masalahnya.”

Tetapi masalah belum selesai, uang yang ada hanya selembar lima puluh ribu. Teman gw bingung dan mungkin sempat terpikir untuk memberikan lima puluh ribu saja. Beberapa saat, entah mengapa, lewat tukang bakso diatas jalan layang di semanggi. Kebetulan yang sangat aneh dan pada akhirnya menukarkan uang lalu pak polisi dapat rezeki dua puluh ribu.

Pada malam hari ketiga, tepatnya di sekitar sarinah, ada pertarungan seru antara supir taksi melawan wanita perkasa di karimun hitam. Awal mula kejadian tidak begitu jelas buat gw, tiba-tiba saja ada suara orang berteriak kira-kira 20 meter dari tempat berdiri. Semua orang kaget dan mendekat ke TKP. Ternyata suara itu dari supir taksi berbaju blue bird group. Supir bertubuh pendek itu menghadang ke depan karimun hitam sambil berteriak dan mengumpat. Terlihat kaca depan karimun pecah sedikit dan masih belum jelas apa penyebab keributan ini.

Kaca samping karimun pun terbuka, ternyata wanita lumayan cantik seperti presenter News dot com. Wanita itu marah-marah dan menunjuk kaca mobilnya yang pecah. Pertarungan semakin seru karena supir taksi ngga mau kalah. Tetapi, masih ngga jelas masalahnya apa karena berdua saling menyalahkan dan marah. Tiba-tiba ada seorang pemuda berotot ke arah supir taksi.

“Mas, disana ada pos polisi, jangan ribut disini.”

Supir taksi itu terlihat ketakutan dan berusaha membela diri. Beberapa saat muncul pemain baru dengan kaos oblong dan celana coklat khas polisi. Terlihat berbicara dengan supir taksi dan wajah keduanya sangat serius. Kisah seperti sinetron ini sepertinya akan berlanjut ke kantor polisi. Karimun hitam itu mengikuti polisi ke pos dan supir taksi kembali ke taksinya. Ternyata supir itu tidak sendirian lagi, ada beberapa teman sesama profesi yang menemani. Kira-kira empat sampai lima orang.

Gw memutuskan untuk mengikuti kisah ini, cukup seru diantara sesak macet jalanan yang menyebalkan. Setidaknya ini tidak peristiwa yang sering terjadi. Ketika sampai di pos polisi, hanya terlihat kawanan supir taksi saja. Semua marah dan kesal. Seorang wanita agak gemuk dan berpenampilan seksi berteriak, “Bagaimana tidak kabur, diteriakin maling. yah takutlah dia.”

Sepertinya sudah menjelaskan ending dari sepotong kehidupan yang tidak jelas ini.

Hari keempat dimulai dari mencari software bajakan di ITC Cempaka Mas. Sepanjang jalan entah berapa orang anak jalanan, pengemis bahkan masih balita meminta-minta. BBM naik, jumlah mereka mungkin juga ikut bertambah. Malahan ada anak kecil yang seharusnya bermain atau tidur di kasur yang empuk, tidak beralas jalanan dan ditemani sampah-sampah.

Gw hanya menghela nafas setiap melewati mereka, satu persatu. Saat itu, ingin rasanya berbuat untuk mereka atau bertekad untuk belajar dengan baik supaya bermanfaat untuk mereka. Tetapi setelah melewati pintu ITC dan disambut angin yang sejuk, semua pikiran itu hilang sejenak. Kembali memikirkan diri sendiri. Beli makanan, software dan game yang ngga jelas, DVD film atau komik di gramedia. Ketika keluar dari ITC, kembali ke jalanan yang sama dan orang-orang yang sama ditambah perasaan iba yang sama. Naik bus dan kembali ke kosan abang gw. Perasaan iba itu juga kembali entah kemana.

Begitulah kalau melihat kemiskinan rakyat, iba dan ingin membantu. Tetapi ketika sudah melihat kesenangan pribadi, lupa akan nasib rakyat yang tidak beruntung seperti gw. Kapan lebih baik? Entahlah.

Pukul lima lewat empat puluh lima di argo gede. Waktu kembali ke bandung dan mungkin kalau kembali lagi ke jakarta nanti, suatu saat, semoga ada perubahan atau setidaknya ada cerita yang lebih baik lagi..

3 comments June 3rd, 2008

Dunia Ini ternyata Sempit

Setelah dipikir-pikir, dunia yang gw jalanin ternyata sempit. Maksudnya bukan dari sisi ukuran, tapi relasi antar orang-orang yang gw kenal. Contohnya saja teman-teman kosan gw yang pastinya tidak pernah diatur dengan sengaja. Pertama tuh pacarnya teman gw yang pertama punya teman satu asrama. Temannya itu ternyata teman SMA gw yang kakaknya juga kakak kelas gw. Kakak kelas itu ternyata temannya pacar teman kosan gw yang kedua. Diputar-putar dan bingung juga menjelaskannya.

Lalu teman kosan gw yang ketiga punya teman satu geng yang ternyata temannya abang gw pas SMP. Ada juga pacar temannya teman kosan gw yang ketiga yang juga teman abang gw. Lanjut kepada yang keempat. Gebetannya dia adek kelas gw di SMA dan sahabat gebetannya itu kenal ma teman gw di kampus. Diputar-putar lagi tapi bisa juga dihubungkan.

Contoh lainnya salah satu teman cewek gw yang katanya paling cakep satu himpunan. Pacarnya dia yang kuliah di Jakarta ternyata ce esan dengan sepupu gw. Banyak contoh lagi yang kenal sama orang baru dan ternyata salah satu teman si orang baru itu teman gw juga.

Waktu kuliah di Jakarta, dosen gw pernah jelasin kalau ada penelitian tentang relasi antar manusia ini. Seluruh orang di dunia ini pasti berhubungan paling banyak enam kali. Misalkan Nereida, pacar Cristiano Ronaldo yang katanya liar dan suka pamer tubuh itu dengan gw. Ini hubungan yang diandai-andaikan. Gw punya teman di jakarta yang tantenya kenal dengan pengusaha perhotelan skala internasional. Pengusaha ini juga punya klien yang sering menginap di Hotelnya di Portugal. Kemudian kliennya ini ternyata tetangga Cristiano Ronaldo dan pastinya kenal dengan pemain Manchester United ini. Terakhir Ronaldo ke Nereida. Gw - Teman gw - Tantenya - Pengusaha - Kliennya - Ronaldo - Nereida. Itu maksud 6 kali.

Logis juga dan membuat dunia serasa lebih sempit.

Terkesan memaksakan memang.

Add comment May 26th, 2008

Hari-Hari Pertama Premium 6000

Bahan Bakar Minyak (sepertinya begitu) naik lagi. Harga barang-barang naik, kata presenter cantik di Metro TV, sekitar 10 sampai 15 persen. Untuk anak kos-kosan yang udah terbiasa paradigma hidup pas-pasan, pasti bakalan terasa juga. Mulai dari bensin sendiri buat yang berkendara, ongkos angkot buat yang pakai angkot, atau air minum yang makin mahal buat pejalan kaki (yang terakhir maksa).

Dan ada beberapa efek yang terjadi selama hari-hari pertama kenaikan.

Harga boleh naik,  walaupun banyak mahasiswa demo atau hujatan-hujatan warga tidak mampu, gw anggap itu wajar. Mungkin gw masih bisa terima ogkos yang semakin mahal atau harga-harga lainnya. Tetapi yang  susah diterima, ukuran ayam goreng di rumah makan padang juga mengecil, mungkin hampir setengahnya. Mungkin berlebihan, tapi menu favorit gw yang satu itu sudah tidak bisa memuaskan dan memenuhi hasrat lagi. Lama berdiri di emperan lauk pauk restoran padang, mengobrak abrik, membolak balik sampai pindah-pindah jenis, tetap saja tidak bisa menemukan ayam dengan ukuran wajar.

Belum cukup dengan ukuran ayam, nasi yang dihidangkan pun berkurang. Sial, makin berkurang juga kepuasan makan. Untung saja harga masih sama. Kalau tidak, lengkap sudah penderitaan.

Tidak hanya harga naik dan ukuran ayam yang menjadi masalah, anak-anak kosan juga semakin perhitungan. Prosedur peminjaman motor lebih rumit dan yang punya motor pun rasanya sering meminjam motor yang lain. Selain itu, makanan juga makin sedikit yang dapat dikunyah di kamar yang lain. Tidak ada lagi sandwitch pembagian Mas Agung atau permen Tamila nya si Dian. Seribu atau dua ribu menjadi nilai yang lebih mahal sekarang.

Tetapi masih ada untungnya juga. Gw jadi tahu bagaimana menghemat bensin atau pertamax ketika mengendarai sepeda motor. Kata teman gw yang kelihatannya dapat dipercaya, memakai pertamax bisa jadi lebih hemat dan sudah tentu lebih baik. Dengan memakai pertamax, cukup sedikit buka-tutup katup dari gas yang diputer, energi yang dihasilkan lebih besar daripada premium. Entah benar atau tidak, soalnya udara dingin plus laper ketika mendengar penjelasan. Berbeda dengan memakai bensin yang harus memutar gas lebih banyak untuk mendapatkan energi yang sama dengan pertamax yang lebih sedikit. Memutar gas maksudnya memutar gagang di pergelangan tangan kanan. Gw ngga tahu bahasa yang baik dan benarnya bagaimana.

Sepertinya BBM masih bisa membuat cerita baru di hari-hari berikutnya…

Add comment May 26th, 2008

Previous Posts


Categories

Links

Feeds